Mata Minus Bisa Diatasi, Bagaimana Caranya?

 09/03/21

Ditinjau oleh: Dr. Maria Magdalena Purba, SpM

Mata Minus

Mata minus berpotensi besar menghambat aktivitas sehari-hari. Ketahui cara mengobatinya agar hidup lancar kembali.

 

Mata minus adalah kelainan penglihatan yang  banyak dijumpai di lingkungan masyarakat. Dari anak kecil usia sekolah hingga orang dewasa berstatus pekerja atau pengusaha, pasti ada yang mengalami gangguan itu. Dalam istilah medis, sebutannya adalah miopia atau dikenal dengan rabun jauh. Para penyandang miopia tentunya cukup mengalami kesulitan  terkait dengan penglihatannya dalam aktivitas hidup sehari-hari .

Bila gangguan sudah terlampau berat, perlu upaya penanganan yang tepat dan memadai. 

Saat ini beberapa metode pengobatan mata minus yang disebut menggunakan “cara alami”,  cara pengobatan dengan “senam mata” ataupun  obat-obatan yang diklaim dapat menyembuhkan mata minus masih belum terbukti secara ilmiah.

 

Berdasarkan Peta Jalan Penanggulangan Gangguan Penglihatan di Indonesia 2017-2030 yang disusun oleh Kementerian Kesehatan, miopia menjadi salah satu topik pembahasan. Miopia masuk daftar lima besar penyebab kebutaan di seluruh dunia. Prevalensi miopia di Indonesia sendiri mencapai 25 persen dari total populasi sehingga membuatnya menjadi penyakit mata yang paling banyak diderita masyarakat. Namun terdapat sejumlah cara untuk mengatasi mata minus yang telah terbukti keampuhannya.

Penyebab Mata Minus

Mata minus adalah kelainan refraksi saat cahaya sejajar yang masuk ke mata dalam keadaan istirahat menghasilkan bayangan di depan retina. Semestinya, pada mata normal, cahaya itu jatuh tepat di retina. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan menjelaskan, penyebab kelainan miopia itu belum jelas. Menurut dugaan para ahli, terdapat dua faktor pemicu utama mata minus, yakni:

Keturunan: Bila orang tua menyandang miopia, besar kemungkinan anaknya mengalami hal yang sama. Namun faktor risiko ini lebih kecil.

Lingkungan: Perilaku sehari-hari yang berisiko menimbulkan gangguan pada mata, seperti sering membaca, apalagi sambil berbaring atau di tempat redup. Juga kebiasaan di depan layar, misalnya menonton televisi, memakai komputer, atau bermain telepon seluler.

Pilihan Penanganan Mata Minus

Badan Kesehatan Nasional Inggris (NHS) menyatakan terdapat setidaknya dua macam pilihan untuk menangani miopia. Penanganan ini tidak bersifat pengobatan, melainkan sebagai pengendali agar penglihatan tidak makin buruk dan membantu penyandang miopia menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih lancar.

Penggunaan Lensa

Untuk dapat melihat dengan lebih jelas, penyandang miopia bisa menggunakan lensa yang sesuai dengan ukuran minus mata. Lensa di sini dapat berupa kacamata atau lensa kontak yang dipasang langsung pada kornea. Kacamata dan lensa kontak memiliki poin plus dan minus yang patut dipertimbangkan sebelum memilih satu di antaranya.

Pada umumnya, orang memilih kacamata karena alasan kepraktisan penggunaan. Cukup menggantungkan kacamata di telinga, orang sudah bisa melihat lebih jelas. Cara membersihkannya cukup dengan cairan pembersih dan lap khusus serta bisa disimpan di kotaknya. Namun kacamata dinilai bisa mengganggu penampilan. Belum lagi kerepotan yang muncul ketika harus beraktivitas fisik, seperti berolahraga, mengendarai sepeda motor di tengah hujan deras, atau berenang.

Sedangkan lensa kontak biasanya dipilih karena membuat orang seakan-akan tak punya masalah penglihatan dan penampilan bebas dari kacamata. Tetapi ada cara khusus untuk memakai dan merawat lensa kotak yang perlu diperhatikan dengan benar. Kebersihan lensa kontak harus selalu dijaga. Perlu cairan khusus untuk menyimpannya. Lensa kontak pun tak bisa dipakai berlama-lama karena justru berisiko menimbulkan infeksi pada mata. 

Operasi Laser

Pilihan penanganan mata minus ini memanfaatkan teknologi laser pada kornea untuk memperbaiki fungsi mata. Setidaknya ada tiga jenis operasi laser untuk mata minus:

Keratektomi fotorefraktif (PRK): mengangkat sebagian kecil lapisan permukaan pelindung kornea, sementara laser dipakai untuk mengambil jaringan dan mengubah bentuk kornea. Lapisan kornea tidak dikembalikan, melainkan dibiarkan tumbuh sendiri.

Laser-assisted subepithelial keratectomy (LASEK): metodenya seperti PRK, tapi umumnya memakai larutan alkohol untuk melonggarkan kornea sehingga flap atau lapisan jaringan bisa diangkat sementara laser digunakan untuk memperbaiki kornea. Setelah itu, lapisan kornea dikembalikan ke tempat semula.

Laser-assisted in situ keratomileusis (LASIK): mirip dengan LASEK, tapi laser tidak dipakai untuk mengambil lapisan permukaan kornea. Laser dimanfaatkan untuk mengambil jaringan dari lapisan dalam kornea dengan cara menyayat lapisan luarnya. 

Operasi laser menjanjikan kualitas kehidupan yang lebih baik bagi penyandang mata minus dalam jangka waktu panjang. LASIK salah satu yang banyak direkomendasikan karena telah memberikan bukti secara internasional. LASIK pun tak hanya bisa digunakan untuk mengatasi masalah mata minus, tapi juga astigmatisme dan hipermetropia. 

Dalam penelitian bertajuk “Functional Outcome and Patient Satisfaction after Laser In Situ Keratomileusis for Correction of Myopia and Myopic Astigmatism” di jurnal oftalmologi Timur Tengah, sebanyak 98,5 persen pasien LASIK menyatakan tujuannya tercapai lewat operasi itu dan mau menjalaninya lagi jika bisa. Selain itu, 93 persen mengaku kualitas hidupnya meningkat seusai LASIK.

Meski begitu, tak semua orang dengan masalah mata minus bisa menjalani LASIK. Perlu pemeriksaan oleh dokter mata untuk memastikannya. Bila memiliki miopia dan ingin memperbaiki kualitas hidup, segera konsultasikan masalah itu dengan dokter mata agar mendapatkan pilihan penanganan yang tepat. 

 

Back